Sisa-sisa peninggalan manusia purba di lembah Nutuf menunjukan bahwa masyarakat Palestina di zaman pra sejarah berasal dari ras yang dinamakan dengan “Ras Laut Tengah”, dan sejak tahun 3000 SM bangsa semit dari Jazirah Arab mulai berimigrasi, berdatangan ke palestina, hingga mereka mendominasi elemen masyarakat yang ada. Seperti orang-orang Kan’an yang datang ke Palestina sekitar tahun 2500 SM. Pada tahun 1500 SM bangsa Semit dari suku atau kabilah Maabiyah, Edomiah dan ‘Umuniyyah berdatangan, dan mereka tinggal di Sebelah selatan Suria, di wilayah yang membentang antara laut mati dan teluk ‘Aqabah, kemudian datang imigran ketiga dari bangsa semit yang merupakan suku Anbath yang telah menetap di Negeri Syam sekitar tahun 500 SM.Di sisi lain, Para Pelaut dari Asia Minor (Asia Kecil) dan Kepulauan Laut Ejah berdatangan ke Palestina sekitar tahun 1200 SM, kemudian menetap di tepi pantai Palestina, dan mereka dikenal dengan sebutan “PLST”(Palest). Dengan sangat cepat mereka berbaur bersama orang-orang Kan’an yang ada. Ada pun Bani Israel, mereka telah mencoba untuk memasuki Palestina dibawah kepemimpinan Nabi Musa as. Pada akhir abad ke 12 (sekitar tahun 1230 SM), setelah usaha itu akhirnya mereka menetap di bagian Timur Laut Palestina. Di sisi lain runtuhnya Negara Israel tahun 721 SM menyebabkan berimigrasinya 10 dari 12 Kabilah Yahudi yang ada ke palestina, sebagaimana Tawanan perang Babilonia (tahun 586 SM dan 597 SM) yang berisi sejumlah besar orang yahudi telah dibawa ke irak, hingga kemudian kedudukan dan jumlah orang yahudi yang berada di Palestina menjadi menyusut. Setelahnya mereka berhasil mencapai beberapa kegemilangan dan kemakmuran, ketika pemerintahan otonom di terapkan oleh kepemimpinan dinasti Makabiah (Kerajaan Yahudi), dan itu terjadi di bawah hegemoni Yunani dan Romawi, tetapi posisi atau kedudukan mereka (yahudi) yang berarti tak pernah kembali lagi semenjak abad ke dua Masehi (setelah tahun 135 M).
Orang-orang Yaman, orang-orang Saba dan orang-orang Mu’in mempunyai banyak koloni (perkampungan-perkampungan kecil) di sekitar Oase yang dilewati jalur perdagangan di Negeri Syam sejak 1000 tahun pertama sebelum masehi. Dan salah satu kabilah Arab terkenal yang pertama kali menetap di Syam dan diantaranya menetap di Palestina adalah Kabilah Qodho’ah yang dikemudian hari mereka memeluk agama Nasrani, kemudian datanglah setelahnya Raja Romawi ke Syam, selanjutnya datanglah kabilah Salîh yang mengganti posisi raja Romawi tersebut. Kemudian Bani Ghasân “Al Ghasâsanah” berimigrasi dari yaman pada penghujung abad ke tiga masehi, dan menetap di sebelah utara Hijaz, kemudian pindah ke Syam. Inggris telah mengakui adanya kekuasan dan dominasi bani ghasân ini, mereka telah mendirikan Negara yang menjadi penyekat antara Romawi dan Persia, kekuasaan mereka meluas dan mendominasi kabilah-kabilah Arab yang ada di palestina. Kekuasaan mereka terus berlanjut hingga sekitar tahun 584 M, dimana keruntuhan mereka bermula, yakni ketika mereka bermusuhan dengan Romawi dan ketika Persia memerangi Syam tahun 613 M. Kekuasan Bani Ghasân akhirnya berhasil ditumbangkan Persia, dan ini terjadi tidak lama setelah wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan permulaan menyebarnya agama Islam.
Negeri Syam telah menyaksikan tiga entitas Bangsa Arab sebelum kedatangan islam, Di sebelah selatan ada suku Anbath, di sebelah Utara ada Suku Tadmor (palymira), dan Suku Ghasân ada diantara keduanya. Kekuasaan suku Palymira tidak mencapai Palestina, adapun anbath kekuasaannya terpusat di Petra, sebelah timur Yordania. Dengan cepat kekuasaan mereka meluas, mereka membangun sebuah kerajaan yang dikepalai Harits pertama sejak tahun 169 SM. Pada puncak kejayaannya, negeri mereka mencakup bagian-bagian timur dan selatan Palestina, Huron, Edom, Madyan dan Pantai-pantai Laut Merah. Negeri mereka masih melingkupi daerah kekuasaan dinasti Makabiah dari tiga arah pada masa Harits kedua dan ketiga, hingga akhirnya tidak lama kemudian kekuasaan mereka runtuh oleh Romawi dipenghujung abad pertama masehi.
Setelah Fathul islamy menyebarlah kabilah-kabilah Arab di Palestina, mereka berbaur dan bercampur dengan penduduk yang lebih dulu menempati Palestina, seperti orang-orang Kan’an dan yang lainnya. Terjadilah gerakan Pengislaman (Islamisasi) dan pengAraban yang bertahap dan natural dibawah pemerintahan Islam, hingga Agama penduduk Palestina berubah menjadi Islam, dan lisan mereka menjadi lisan orang-orang arab.
Secara Umum, mayoritas Bangsa Arab yang bertempat tinggal di Palestina merupakan Arab Qohtoniiyah atau arab ‘Aribah, yaitu salah satu dari kabilah arab yang asal-usulnya kembali ke yamaniyyah (orang-orang yaman). Kebanyakan Tentara-tentara Fathul Islamiy berasal dari kabilah-kabilah ini. Seperti, datangnya salah satu suku atau kaum dari orang-orang Asy’ariy ke Tobariyyah dan mendominasi kebanyakan mereka, kemudian beberapa dari anak kabilah judzaam/jadzaam tinggal di Beit Jibrin (salah satu nama daerah di Palestina), berikutnya adalah Tobariyyah yang menempati beberapa tempat di palestina. Tinggal juga kaum dari keturunan Bakar Bin Wail di daerah Janin, yang lainnya keturunan dari Mudhor Bin Nazzar yang menetapi daerah Nablus.
Di daerah Kholil dan sekitarnya telah dihuni oleh Lakhm (nama kabilah), dan cabang dari kabilah Bani Abdud Dar, mereka adalah kerabat Tamim ad Dari R.A. Salah satu kabilah Arab Arubah yang terpenting adalah kabilah Himyar yang kebanyakan dari mereka dinasabkan ke kabilah qodho’ah. Cabang-cabang dari kabilah ini tersebar di Desa Al-Bathaniy (Gaza), Al Jama’in (Nablus), lembah Hanin (Yafa) dan desa-desa lainnya. Salah satu cabang dari kabilah qodho’ah yang tersebar di Palestina adalah kabilah Kalb, Jaram, Qudamah, Bani Bahra, Bani ‘Udzrah, Qain dan Maskah. Salah satu bangsa arab ‘Aribah adalah kabilah-kabilah Bani Kahlan, beberapa kabilahnya yang terpenting adalah Thoi, yang saat ini dikenal dengan nama “Syamr”, kemudian Lakhm, Zubaid, Aus dan Khazraj, semuanya menyebar di berbagai belahan bumi Palestina. Disana juga ada sejumlah besar orang utara Jazirah Arab yang dikenal dengan “Bani Adnan” atau “Bani Ismail” atau “Arab Al Musta’robah” (Orang Asing yang menjadi orang arab), kepadanya Quraisy dinasabkan, dan banyak diantara mereka berdatangan ke Palestina, diantaranya dari keturunan Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Abbas, dan sahabat-sahabat lainnya. Pun begitu pula di sana terdapat kabilah Anzah , harb dan yang lainnya.
Masyarakat Palestina masih merupakan masyarakat yang mayoritas beragama islam dengan lisan orang arab semenjak Fathul Islamiy hingga hari ini. Masa-masa Perang salib tidak sedikit pun berpengaruh terhadap susunan masyarakat kecuali sedikit saja, yaitu ketika tentara salib dari eropa memerangi palestina, namun Kaum Muslimin dapat beradaptasi terhadap serangan ini dengan sangat cepat, sehingga identitas keislaman Palestina akhirnya kembali lagi.
Palestina masih menjadi daerah yang mempunyai daya tarik tersendiri, selain karena karena kedudukannya yang disucikan, juga karena letak geografisnya, iklimnya yang sedang, fasilitas bertani dan berdagang yang memadai, dan lain sebagainya. Beberapa diantara Orang Islam yang menetap di Palestina berasal dari Suku Kurdi, kaum Barbar, cechnya, Bosnia dan Turki, mereka berbaur dengan masyarakat yang ada dan menjadi orang arab.
Di palestina Juga tinggal segelintir atau minoritas dari Kaum nasrani, hidup dengan damai dan tenang di bawah naungan pemerintahan Islam. Diantara Kaum Nasrani Palestina adalah penduduk asli yang tetap pada agamanya, sebagiannya lagi merupakan Kaum Nasrani dari Armenia dan Yunani yang dikemudian hari mereka punya keinginan untuk menetap di tanah suci Palestina. Toleransi Agama Islam pun meluas hingga menyentuh kaum yahudi penduduk Palestina dan pendatang, karena mereka termasuk ahludz dzimmah. Minoritas kecil dari kaum Yahudi hidup biasa tanpa ada obsesi Politik atau menguasai, dan jumlah mereka di awal abad ke 19 M tidak melampaui 5000 orang, kemudian jumlah mereka menjadi sekitar 23.000 sesaat sebelum mulai diadakannya Program Kerja Aktif Pengimigrasian Zionisme sekitar tahun 1880.
Ketika Inggris menjajah Palestina tahun 1918, masyarakat Palestina pada saat itu berkisar 660.000 jiwa, 550.000 diantaranya beragama Islam, 60.000 beragama Nasrani, dan 55.000 beragama Yahudi, atau sekitar 91,73 % Arab, sedangkan 27,8 % Yahudi, dan kebanyakan orang-orang yahudi tersebut merupakan imigran dari Rusia dan Eropa Timur sekitar 40 tahun yang lalu.
Di bawah penjajahan inggris yang berjanji akan mendirikan tanah air Yahudi di Palestina, terbukalah lebar-lebar pintu imigrasi dan lokalisasi (penempatan) bagi yahudi, dimana dalam dalam kurun waktu 1919-1948 sekitar 483 .000 orang yahudi berimigrasi ke Palestina, tetapi sampai keluarnya kebijakan dari PBB tentang pembagian wilayah Palestina tahun 1948, bangsa Arab masih merupakan Mayoritas Penduduk Palestina. Lembaga Statistik PBB – yang memberi saran pembagian wilayah – menyebutkan bahwa jumlah penduduk Arab mencapai 1.237.373 orang (67,5%) dan jumlah penduduk yahudi mencapai 608.225 orang (32,95%). Angka-angka ini didasarkan kepada hasil data sensus Inggris tahun 1946.
Kebijakan PPB yang Zalim dengan membagi wilayah Palestina adalah usaha untuk melegalisasi berdirinya entitas atau eksistensi orang-orang Zionis di Palestina, salah satu bentuk kezaliman yang dibangun dari kebijakan ini adalah pemecah belahan masyarakat Palestina dan pengusiran mereka. Di satu daerah yang diputuskan ‘tuk dibagi, diberikannya kepada yahudi 54% dari keseluruhan tanah palestina, dengan penghuni 498.000 Yahudi dan 497.000 orang arab, adapun daerah yang diputuskan ‘tuk diberikan kepada orang arab hanya 45% dari keseluruhan tanah Palestina, dengan penghuni 725.000 orang arab dan 10.000 yahudi, sedangkan daerah Al-Quds (1% dari tanah palestina) diputuskan berada dalam pengawasan dunia internasional, dengan penghuni 105.000 orang arab dan 100.000 orang yahudi. Berdasarkan hasil perhitungan statistik mendetail yang dilakukan Janet menunjukan bahwa Orang-orang arab Palestina di penghujung tahun 1948 berjumlah 1.398.000, adapun hasil perkiraan Salman pada tahun yang sama menunjukan bahwa jumlahnya 1.441.000.
Karena yahudi sudah siap sepenuhnya untuk perang dengan dukungan Negara-negara besar untuk memaksakan resolusi partisi, dan ekspansi entitas mereka, dan karena mereka mengusir penduduk palestina dari tanah yang ditempatinya, maka hal ini semua menyebabkan terjadinya perang Palestina tahun 1948 yang merupakan tragedi besar bagi masyarakat Palestina. Menurut data statistik PBB tercatat 726.000 orang palestina terusir dan terlantar dari tanah mereka, setelah itu jumlahnya bertambah lagi menjadi sekitar 900.000 pengungsi, artinya ada sekitar 2/3 masyarakat palestina telah dibuang dari tanahnya, dimana yahudi zionis telah melakukan salah satu cara terparah pembersihan etnis dalam sejarah kontemporer. Kemudian zionis melakukan penempatan orang yahudi dari berbagai macam jenis dan warna di tempat para penduduk palestina asli. Pada tahun 1964, yahudi menjajah tanah palestina yang tersisa (Tepi Barat dan Jalur Gaza), dan mengusir 330.000 Orang Palestina yang lainnya.
Angkatan Senjata Zionis telah dan akan senantiasa melarang orang-orang Palestina untuk kembali ke tanah mereka, oleh karenanya sebagian besar orang palestina – lebih dari setengah total keseluruhan masyarakat palestina – masih mengungsi di luar Palestina.
Demikianlah akhirnya masyarakat Palestina tercecer (tahun 2002 jumlahnya mencapai 554.000) di tiga bagian geografis, yaitu:
1. Tanah terjajah palestina tahun 1948; ada sekitar 1.239.000 pada tahun 2002, atau sekitar 12,97% dari keseluruhan masyarakat Palestina.
2. Tanah terjaja Palestina tahun 1967 termasuk di dalamnya wilayah Al-Quds; ada sekitar 3.485.000 jiwa di tahun 2002 atau sekitar 36% dari keseluruhan masyarakat Palestina.
3. Orang-orang Palestina yang berada di luar palestina; ada sekitar 4.830.000 di tahun 2002, atau sekitar 50,55% dari keseluruhan masyarakat palestina.
Permasalahan para pengungsi palestina merupakan permasalahan kemanusiaan terpelik dalam sejarah kontemporer, Jumlah orang-orangnya sangat banyak dan penderitaannya begitu panjang jika dibandingkan dengan para pengungsi lain yang pernah ada sejak tahun 1948, namun kolusi (kerjasama rahasia) internasional antar negara-negara besar masih saja terjadi, khususnya persekongkolan antara Amerika serikat dan zionisme Israel perihal pelarang kembalinya masyarakat palestina ke tanah mereka, walaupun puluhan keputusan PBB dikeluarkan yang menegaskan tentang hak mereka untuk dapat kembali ke tanahnya.
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Pembentukan Masyarakat Palestina
Wanita Dalam Sejarah Kehidupan Nabi Musa
Kita kembali ke ribuan tahun kebelakang, membuka lembaran sejarah mereka yang sepanjang zaman jadi teladan. Kita ingin belajar dari sejarah, bukan hanya belajar sejarah. Kita ingin mengambil fakta dari sejarah bukan hanya mengumpulkan data. Kita tak ingin salah melangkah kedepan, dan itulah salah satu fungsi sejarah, belajar dari kekhilafan lalu agar tak salah melangkah di masa depan, atau belajar dari kegemilangannya agar lulus sebagai pemenang.Tidak syak lagi, kalau wanita, selalu dan selamanya memiliki peran penting dalam peradaban setiap bangsa atau ummat. Tidak berlebihan kiranya jika ada sebagian orang yang mengatakan bahwa wanita adalah "Tiang Negara", tidak berlebihan pula jika sebagian yang lain mengatakan wanita sebagai "Madrasah pertama bagi anak-anaknya", dan seterusnya-dan seterusnya berbagai ungkapan dilontarkan tentang wanita.Sejarah tak luput mencatat, bagaimana Musa dan para wanita yang berjasa dalam hidupnya. Musa a.s. dilahirkan saat kondisi sedang pelik. Rasa takut firaun akan tahtanya membuatnya bertindak tiran dan sewenang-wenang di muka bumi. Setiap bayi laki-laki yang lahir ke dunia patut di sembelih, adapun bayi perempuan dibiarkannya hidup.
Sosok pertama seorang wanita dalam hidup Musa adalah Ibu nya. Lihatlah bagaimana keadaannya tatkala Musa lahir ke dunia? Sang Ibu bimbang hatinya, apa yang harus dilakukan, sedangkan firaun dan bala tentaranya pasti akan segera menjamah dan merampas setiap anak lelaki dari tangan ibu-ibu mereka.
Saat sang ibu mendekap erat Musa kecil dalam pangkuannya, dan bimbang semakin menjadi-jadi, maka Alloh sudah merencanakan sesuatu untuk Musa. Tiba-tiba, sang ibu jadi bulat tekadnya untuk menghanyutkan sang buah hati ke sungai dengan memasukannya ke dalam wadah, kemudian menitipkannya kepada laju arus sungai.
Sesaat setelah Musa di biarkan mengambang bersama arus sungai, sang ibu hatinya menjadi kosong, penuh rasa penyesalan. Kenapa dia percaya kepada suara hati nya yang muncul begitu saja itu? Bukankah membiarkannya mengambang di sungai jauh lebih bahaya ketimbang membiarkannya didekap? Boleh jadi ia tenggelam atau dimangsa buaya sungai yang buas! Hampir saja ibu Musa tak dapat menahan dirinya, hampir saja dia berteriak dan ingin mengatakan segala apa yang ada dihatinya yang boleh jadi semua rahasianya ‘kan terbongkar seketika, namun Alloh meneguhkan hatinya, agar ia menjadi seorang mu'minah (yang percaya terhadap janji Alloh).
"Ikutilah jejaknya!"(QS. Al-Qoshos:11) suruh Ibu Musa terhadap anak perempuannya (Saudari Musa). Ini dia, saudara perempuan Musa, wanita kedua dalam kisah hidup Musa. Dengan amanah, dia mengikuti jejak musa sampai penyusuran jejaknya itu akhirnya mengantarkan ia ke istana firaun, dan ia dapati saudara laki-lakinya tengah berada di pangkuan istri sang penguasa tiran, Firaun. Bagaimana bisa? Jawabannya hanya satu, sungai telah memainkan perannya dengan baik, sungai tidak khianat dengan suruhan Alloh yang Maha berkuasa. Jika mau, boleh saja sungai menelan bayi mungil itu, namun ternyata Alloh telah menyuruhnya dengan tugas khusus, yaitu mengantar bayi kecil kesisi wanita mu'minah lainnya (Istri Firaun).
Istri Firaun, wanita ketiga dalam hidup Musa, telah memainkan perannya, Alloh menakdirnya 'tuk menjadi penyelamat Musa kecil ketika kilatan pedang hampir saja memutus lehernya. Istri firaun berkata "Jadikanlah ia sebagai buah hatiku dan dirimu! Jangan lah engkau bunuh, mudah-mudahan anak ini kelak bisa bermanfaat bagi kita, kita jadikan saja sebagai anak…".(Al-Qoshos: 9)
"Mereka membuat makar, Alloh pun membuat makar, dan Allohlah yang paling baik makarnya."(Ali-Imron: 54). Firaun ingin agar kekuasaannya langgeng, dengan membunuh setiap bayi laki-laki dari masyarakat bani israil, sehingga populasi lelaki mereka berkurang dan dengan demikian kekuasaan akan tetap berada ditangannya. Firaun punya keinginan, tapi Alloh punya kehendak lain. Apa yang ditakutinya berupa keruntuhan kekuasaan justru tak lama lagi akan terwujud, bayi kecil yang kini berada dibawah asuhan istrinya inilah yang kelak akan menjadi musuhya.
Mulailah istri firaun mencarikan seseorang yang dapat menyusuinya. Tiap kali didatangkan seorang yang hendak menyusuinya, tiap itu pula Musa kecil dengan isyarat keengganannya menolak sang penyusu, sehingga kemudian saudari perempuan Musa yang menyaksikan peristiwa di istana megah firaun itu berkata "Mau kah ku tunjukan kalian kepada seseorang yang dapat menyusuinya?".(Al-Qoshos: 12)
Demikianlah akhirnya Alloh mengembalikan musa ke haribaan ibunya, sehingga hati sang ibu kembali menjadi tenang. Hari-hari berlalu, Musa tumbuh di istana musuhnya sendiri, firaun, namun sang durhaka dan durjana firaun tidak menyadarinya kalau bahaya yang ditakutinya sebenarnya setiap hari selalu mengancam.
Kini Musa telah dewasa, Alloh telah memberikan kepadanya pengetahuan dan hikmah. Alloh pun telah punya rencana lain untuk Musa, hidupnya yang berkelimpahan di istana dan kenyamanan di dalamnya, sesaat dan sesaat lagi akan berubah total.
Pada suatu saat dalam sejarah hidupnya, Musa memasuki sebuah kota yang sedang lengang, tak nampak aktifitas penduduknya, kemudian ia mendapati di kota tersebut, dua orang tengah berselisih, yang satu dari kaumnya (bani israil) yang lainnya adalah anak buah firaun. Maka orang yang dari kaumnya itu meminta bantuan kepada Musa, seketika Musa memukul anak buah firaun hingga ia tergeletak tak berdaya bahkan berhenti detak jantungnya. Musa kaget bukan buatan atas apa yang telah dilakukannya, padahal tak ada maksud sedikit pun untuk membunuh orang tersebut.
"Ya Alloh, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah diriku…"(Al-Qoshos:16) kata Musa bermunajat memohon ampun kepada Alloh atas kesalahan yang telah diperbuatnya.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Musa dihadapkan kembali pada persoalan yang sama, orang dari kaumnya yang kemarin berselisih meminta pertolongan kembali kepada musa, mengesalkan memang, karena selalu saja orang dari bani Israel itu berbuat ulah sebagaimana cucu-cucunya saat ini. Musa berkata kepada orang dari kaumnya itu “Engkau sungguh orang yang nyata-nyata sesat”.(Al-Qoshos: 18)
Maka ketika Musa hendak memukul orang yang menjadi musuh mereka berdua, dia (musuhnya) berkata “Apakah engkau bermaksud membunuhku sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di Negeri ini (Mesir), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”.(Al-Qoshos: 19) Musa menjadi terdiam ketika mendengar kata-katanya, marahnya terhadap pemuda yang hendak ia pukul ditahannya, hingga berlalu lah pemuda tersebut dari hadapannya.
Rupanya berita pembunuhan itu sudah menyebar ke seantero mesir, Nama Musa dibicarakan dari mulut ke mulut, dan bahkan ternyata namanya sudah terdengar gaungnya di istana kerajaan firaun, karena beberapa saat setelah musa hendak memukul orang tadi, datanglah seorang laki-laki bergegas dari ujung kota seraya berkata “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar Negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah dari kota ini, sesunggunya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”.(QS. Al-Qoshos: 20)
Keluarlah akhirnya musa dari kota tersebut (kota Memphis), tanpa bekal, dan tanpa seseorang yang menunjuki jalan, karena tuntutan tiba-tiba yang membuatnya tidak sempat memersiapkan apapun. Langkah kakinya menyisir gurun, menapak jejak, akhirnya mengantarkan Musa ke sebuah negeri diantara negeri syam (Irak, Iran,…) dan Hijaz, yaitu kota Madyan. Kita tidak tahu, seberapa lama musa berjalan, kita pun tidak tahu seberapa banyak bahaya yang mengancamnya selama perjalanan, Al-Quran menjelaskan cerita secara singkat, karena tujuan dari Kisah-kisah Al-Quran itu adalah Mengambil Ibrah atau pelajaran dan nasehat di balik kisah Nabi Musa ini, bukan sekedar hafalan data-data sejarah.
Mulailah satu fase kehidupan baru Bagi Musa, kehidupan yang berbeda 180 derajat dari kehidupan sebelumnya yang penuh dengan kemegahan Istana ayah angkatnya, Firaun. Sekarang, Musa ada di negeri Orang, Negeri Madyan. Matanya memandang jauh kedepan, dan ia dapati sekumpulan orang tengah berkerumun ‘tuk memberi minum ternak mereka. Tiba-tiba saja Musa mengarahkan perhatiannya pada dua orang perempuan yang berdiri jauh dari kumpulan orang tersebut, sembari menahan hewan ternak keduanya agar jangan melaju kearah desakan-desakan kerumunan tersebut.
Kemudian Musa mendekati keduanya sembari berkata “Apakah Maksud Kalian berdua dengan berbuat begitu?...”(QS. Al-Qoshos: 23), kedua perempuan itu menjawab “Kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sebelum orang-orang itu memulangkan ternak mereka (setelah selesai dari memberi minumnya), sedangkan ayah kami adalah seorang yang telah lanjut usianya”. (QS. Al-Qoshos: 23) Seakan-akan jawaban dari keduanya menunjukan kalau keberadaan mereka berdua ditengah desakan adalah perkara yang kurang pantas bagi wanita, oleh karena itu keduanya berdiri jauh dari kerumunan dan desak-desakan orang, sambil kemudian berkata “Ayah kami adalah seorang yang telah lanjut usia”, maksudnya, kalaulah tidak karena ayah kami sudah berumur, maka tentunya kami tidak akan berdiri disini sekarang.
Maka kemudian Musa membantu keduanya dalam memberi minum ternak mereka berdua, setelah selesai, tanpa banyak kata, pulanglah kedua perempuan itu, tak ada obrolan sedikitpun antara musa dan keduanya, pun begitu pula musa tidak meminta upah dari keduanya. Mulailah Musa mencari tempat berteduh, setelah mendapatkannya, ia bernaung di bawah tempat teduh itu, dan tidak sedikitpun meminta-minta walaupun banyak orang yang lalu-lalang di hadapannya. Musa berdoa “Ya Alloh aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku.(QS. Al-Qoshos: 24)
Beberapa saat kemudian, tanpa disangka-sangka datanglah kepada Musa salah satu dari kedua perempuan itu. Sambil berjalan dengan malu-malu dia berkata “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami…”.(QS. Al-Qoshos: 25)
Kebaikan benar-benar datang kepada Musa tanpa harus menunggu berhari-hari, hitungannya hanya menit saja, tibalah pertolongan Alloh kepadanya. Setelah Musa sampai ke rumah kedua perempuan itu, bertemulah Musa dengan Ayah keduanya, Sedangkan kedua perempuan tersebut berada disamping ayahnya. Ia (perempuan tersebut) melihat ada sebuah kesempatan baginya dan bagi saudarinya untuk istirahat dari lelah dan penatnya pekerjaan mengembala kambing, oleh karenanya salah seorang dari kedua perempuan berkata “…Wahai Ayah, jadikanlah ia sebagai pekerja kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja pada kita adalah orang yang kuat dan dapat di percaya”.(QS. Al-Qoshos: 26) Keduanya telah menyaksikan sendiri kejujuran orang asing ini (Musa), kemaskulinan (kelaki-lakiannya), dan kebaikan akhlaknya dengan tidak meminta upah sedikitpun sesaat setelah Musa membantu mereka berdua, oleh karenanya jadilah dalam pandangan mereka berdua Musa sebagai sebaik-baik pemuda.
Apa yang dirasakan kedua perempuan itu, dirasakan pula oleh ayah keduanya, memang benar, orang asing ini (Musa) selain butuh tempat berlindung, pun dapat diperbantukan untuk pekerjaannya menggembala kambing, dan pada saat yang sama pula, orang tua tersebut memiliki dua anak perempuan yang salah satu dari keduanya sudah dirasa cukup untuk menikah, dan juga agar keberadaan Musa di rumahnya tidak mengundang desas desus dan bisik-bisik tetangga, oleh karenanya, menikahkan salah satu dari keduanya dengan ketentuan bekerja beberapa tahun adalah solusi jitu dan pas. Berkatalah orang tua tersebut “Sesunggunya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Alloh engkau mendapatiku termasuk orang yang baik.(QS. Al-Qoshos: 27)
Musa menerima perjanjian itu, ia berkata “…Itu perjanjian antara aku dan engkau, yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku lagi, dan Alloh menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan”.(Al-Qoshos: 28)
Tinggallah Musa di negeri asing bersama seorang istri yang mendampinginya, Inilah takdir Alloh bagi Nabi Musa a.s. dalam satu episode sejarah kehidupannya, Musa dan wanita-wanita berjasa dalam hidupnya, Ibunya, Kakak perempuannya, Istri Firaun, dan Istrinya yang solehah.
*******
Pelajaran yang bisa diambil dari satu episode dalam kehidupan Nabi Musa ini:
1. “Boleh jadi Kita tidak menginginkan sesuatu, padahal sesuatu itu ternyata baik bagi kita”. Ini adalah gambaran dari fase kehidupan Musa, kalaulah karena tidak karena sebab Musa memukul anak buah firaun, tidaklah mungkin ia kan meninggalkan Mesir secara langsung dan tiba-tiba. Sungguh ini adalah takdir Alloh agar sempurna pembinaan Nabi Musa, dan persiapannya dikemudian hari tuk menghadapi kecongkakan firaun. Alloh jauhkan dia dari kemewahan Istana firaun, dan kemudian menempatkannya di tengah lingkungan gurun yang udaranya belum tercemari, akhlak-akhlak penduduknya masih terjaga.
2. Andai Musa terus tinggal di Istana Firaun sampai ia mendapat perintah menghadapinya, maka itu akan menjadi hal yang cukup berat baginya, karena musa hidup dari suapan firaun, tinggal di istananya. Maka dengan mudah firaun akan mencelanya, dan menuduhnya tak tahu diuntung. Kehidupan Mandiri adalah cara tuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi, walau akhirnya firaun mengejeknya juga dengan cara itu, padahal musa sudah mandiri dan tidak sepenuhnya hidup dari suapan firaun, apalagi jika tidak demikian, tentunya ini akan menjadi aib tersendiri bagi Musa.
3. Ada kemiripan antara kisah Nabi Musa dan kisah Nabi Yusuf, pertama, Musa di lempar oleh ibunya ke sungai dengan harapan agar selamat dari cengkraman tangan jahat Firaun, adapun Yusuf, saudara-saudaranya lah yang melemparnya ke sumur karena kedengkian mereka, kedua, keduanya sama-sama hidup di lingkungan istana semasa kecil, namun dalam kisah Yusuf yang paling berperan terhadap pendidikannya dan pengembangan dirinya adalah raja dari istana yang ia tinggali sebagaimana dijelaskan di surat Yusuf ayat 21, adapun dalam kisah Musa yang berperan adalah Istri dari raja Firaun sebagaimana tersebut dalam surat Al-Qosos ayat 9.
Ketiga, keduanya tinggal dalam lingkungan keberhalaan. Pada zaman Nabi Yusuf keberhalaan dan kerusakan moral sudah mencapai puncaknya, pun begitu pula pada zaman Nabi Musa, namun walaupun demikian, Alloh telah menjaga kehidupan keduanya dari keterlibatan dengan penyembahan berhala dan kerusakan moral yang merajalela.
Keempat, Setiap fase dari kehidupan dua Nabi ini selalu mengantarkan keduanya pada kondisi yang berbeda bahkan perubahan drastis amat sangat terlihat dari sejarah hidup keduanya. Yusuf hidup dengan nyaman di istana raja mesir, kedekatan Yusuf dengannya layaknya seorang anak dengan ayahnya, semua kenikmatan hidup ia rasakan di dalamnya, pun begitu pula dengan Nabi Musa, dia termasuk anak angkat firaun, dibesarkan di istananya dan sudah barang tentu sempat mencicipi aneka kenikmatan hidup di dalamnya. Namun ternyata, keduanya mesti kehilangan semua kenikmatan hidup itu.
Kehidupan mereka berdua tiba-tiba saja berpindah menuju kesengsaraan, kerasnya hidup, ujian dan cobaan. Yusuf, dari kehidupannya yang penuh kenikmatan, tiba-tiba saja harus mendekam di balik jeruji penjara setelah lontaran tuduhan tak pantas ditujukan padanya oleh seorang perempuan, istri pembesar mesir, Zulaikha. Adapun Musa, kehilangan semuanya sesaat setelah tindakannya yang berakibat pada terbunuhnya anak buah firaun.
Kelima, wanita memiliki peran dalam kehidupan keduanya, hanya saja dalam kisah Nabi Yusuf, peran tersebut berkebalikan dengan peran wanita dalam kehidupan Nabi Musa. Atas takdir Alloh perempuan dalam kehidupan Nabi Yusuf menjadi sumber ujian dan cobaan baginya, adapun dalam kehidupan Nabi Musa, bermula dari Ibu, Saudara perempuan, Istri Firaun, sampai Istrinya, semuanya adalah Nikmat Alloh yang diberikan kepadanya.
4. Kisah Nabi dengan dua orang perempuan yang ia temui di negeri Madyan ini memberikan gambaran pada kita tentang Nilai-nilai Islam dan akhlak-akhlak yang semestinya dipegang teguh oleh muslimah dimanapun dan kapanpun ia berada, beberapa diantaranya adalah:
• Semestinya bagi seorang wanita, ketika ia hendak meninggalkan rumahnya dan menuju tempat lain, baik terjun ke medan kerja, atau sekedar berpergian, berdua lebih baik dari pada sendiri. Kita lihat dalam Kisah tersebut, dua orang perempuan kakak beradik, keluar menuju medan kerja, walaupun boleh jadi orang tuanya yang sudah lanjut usia sangat membutuhkan salah satu dari keduanya untuk hanya sekedar mengambilkan minum, menyuapi makan atau yang lainnya, namun kita lihat bagaimana keduanya keluar bersama-sama agar dapat saling membantu satu sama lain, sehingga tidak membutuhkan bantuan dari orang asing, lebih khusus lagi bahwa karakter dasar pembentukan wanita yang tidak sekuat laki-laki menjadi sebab akan butuhnya seseorang yang menemani dan membantu dalam beberapa pekerjaannya.
• Masing-masing dari kedua perempuan dalam Kisah Musa ini layaknya kamera pengintai bagi yang lainnya, ketika yang satu bekerja, maka yang lain mengawasinya, agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari, karena keberadaan seorang wanita ditengah-tengah kerumunan orang, apalagi jika kerumunan orang tersebut didominasi oleh kaum adam, adalah hal yang riskan baginya kalau-kalau terjadi hal-hal tercela yang tidak pantas dari orang asing yang ditemuinya.
• Kita lihat bagaimana keduanya tidak mau berdesak-desakan, dan ini dijelaskan oleh kata-kata mereka berdua “Kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sebelum orang-orang itu memulangkan ternak mereka (setelah selesai dari memberi minumnya)….”. Seperti telah dijelaskan, bahwa desak-desakan bagi seorang wanita adalah hal yang membuka celah terjadinya sesuatu yang tidak mengenakkan hati, kecuali jika berdesakan ditengah kerumunan sesama wanita, namun lebih utama dijauhi. Hal yang membuat saya miris adalah ketika kebanyakan mahasiswi kita di Kairo, ikut berdesak-desakan di Bus, karena memang disini tranportasi agak sulit, bukan karena kekurangan unit kendaraan/angkutan, namun karena padatnya populasi penduduk. Wanita berdiri di dekat pintu masuk bus sambil kakinya yang sebelah mengambang di udara akan anda dapati disini, dan yang berbuat seperti itu rata-rata mahasiswi Indonesia, oleh karena itu tingkat kriminal pemuda mesir terhadap mahasiswi Indonesia cukup masuk catatan, pun begitu pula terhadap ras Melayu yang lainnya seperti Malaisya, Thailand, dan Singapore.
• Kedua perempuan dalam kisah Nabi Musa ini tidak keluar dengan bersolek dan berhias yang berlebihan, tidak pula berjalan tanpa adab dan rasa malu, melainkan seperti yang digambarkan dalam ayat “Berjalan dengan malu-malu”, seakan-akan rasa malu adalah jalan yang dilewatinya tuk sedikit mendekat menuju Musa.
5. Dari ayat yang berisi perjanjian Musa dan Orang tua, ayah kedua perempuan itu, kita dapati kecerdasan dan kebijakan orang tua tersebut, yakni keputusannya tuk menikahkan salah seorang anak perempuannya dengan Musa, karena memang dia pun membutuhkan seseorang tuk menggantikannya mengurus gembalaan, dan agar kedua anak perempuannya pun dapat istirahat dari lelahnya menggembala. Kalaulah Orang tua tersebut tidak mengambil keputusan menikahkan salah satu putrinya dengan Musa, maka beberapa kesulitan yang mungkin menimpanya adalah sebagai berikut:
• Orang asing ada di rumahnya, sedangkan dia memiliki dua putri, tentunya hal ini akan memancing desas desus yang mencoreng aib keluarga.
• Karena Musa adalah orang asing, boleh jadi ia akan meminta upahnya, karena itu memang haknya, dan ini pun akan membuatnya sulit ‘tuk memenuhi. Tapi karena Musa sudah menjadi menantunya, rasanya kurang pantas jika masih meminta upah terhadap mertuanya.
• Musa akan terus menjadi orang asing dirumahnya karena tidak terikat dengan ikatan apapun, namun ketika sang orang tua menikahkan dengan salah satu putrinya, maka keberadaannya di rumah itu adalah keberadaan yang sah lagi halal, yaitu sebagai seorang suami dari salah satu putri orang tua tersebut, kalau tidak demikian, apa statusnya ketika berkumpul dengan dua orang perempuan yang asing baginya???
6. Tidak seorang Nabi pun melainkan ia pernah menggembala Kambing, Nabi Muhammad, Musa, Isa, dan lain sebagainya. Terdapat beberapa akhlak yang didapatkan dari hasil menggembala kambing ini, diantaranya:
• Sabar: Pekerjaan penggembala adalah pekerjaan dari matahari terbit hingga terbenam, karena kelambanan hewan ternak dalam mengunyah makanannya, maka sabar adalah sebuah tuntutan akhlak yang mau tidak mau mesti dipenuhi oleh pengembala.
• Tawadhu (Rendah Hati): Ciri khas penggembala hewan ternak (kambing, domba, dll) adalah pelayanannya terhadap hewan tersebut, mulai dari mengurusi kelahirannya, penjagaannya yang boleh jadi menuntutnya ‘tuk tidur di dekat hewan-hewan tersebut, dan bahkan sesekali terkena kencingnya. Ketika pekerjaan ini terus berlanjut dan berulang-ulang, hal itu akan semakin menjauhkannya dari besar kepala atau sombong.
• Keberanian (Syaja’ah): Ciri khas lainnya dari pekerjaan menggembala hewan ternak ini adalah bahaya yang kerap kali mengancam dari binatang buas sebangsa srigala yang setiap waktu dapat memangsa hewan ternaknya. Maka seorang penggembala harus memiliki keberanian lebih ‘tuk menghadang hewan buas ini.
• Kasih sayang dan Belas kasih: Tuntutan pekerjaan penggembala kambing adalah, mengobati hewan ternaknya ketika sakit, atau terluka karena gigitan hewan buas. Semua ini membutuhkan kasih sayang dan belas kasih terhadap hewan, memerlakukannya sebagaimana perlakuannya terhadap manusia. Siapa saja yang mengasihi hewan dan berbuat lembut padanya, sudah barang tentu akan memerlakukan manusia dengan sikap yang lebih lembut dan penuh kasih sayang.
• Cinta pekerjaan hasil keringat sendiri: Diriwayatkan Bukhori dari Miqdad R.A. dari Rasulullah saw, Beliau berkata, “Tidak ada makanan yang paling baik bagi seseorang selain makanan yang ia dapatkan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud A.S. makan dari hasil kerja tangannya sendiri” (HR. Muslim). Tidak diragukan lagi bahwa dengan bersandar pada usaha halal ‘kan membuat seseorang meraih kebebasan sempurna dan berkuasa untuk terang-terangan dalam melantangkan kebenaran. Wallohu ‘alam bis shawab
Cairo, 29 Juni 2010
Read More......
Sosok pertama seorang wanita dalam hidup Musa adalah Ibu nya. Lihatlah bagaimana keadaannya tatkala Musa lahir ke dunia? Sang Ibu bimbang hatinya, apa yang harus dilakukan, sedangkan firaun dan bala tentaranya pasti akan segera menjamah dan merampas setiap anak lelaki dari tangan ibu-ibu mereka.
Saat sang ibu mendekap erat Musa kecil dalam pangkuannya, dan bimbang semakin menjadi-jadi, maka Alloh sudah merencanakan sesuatu untuk Musa. Tiba-tiba, sang ibu jadi bulat tekadnya untuk menghanyutkan sang buah hati ke sungai dengan memasukannya ke dalam wadah, kemudian menitipkannya kepada laju arus sungai.
Sesaat setelah Musa di biarkan mengambang bersama arus sungai, sang ibu hatinya menjadi kosong, penuh rasa penyesalan. Kenapa dia percaya kepada suara hati nya yang muncul begitu saja itu? Bukankah membiarkannya mengambang di sungai jauh lebih bahaya ketimbang membiarkannya didekap? Boleh jadi ia tenggelam atau dimangsa buaya sungai yang buas! Hampir saja ibu Musa tak dapat menahan dirinya, hampir saja dia berteriak dan ingin mengatakan segala apa yang ada dihatinya yang boleh jadi semua rahasianya ‘kan terbongkar seketika, namun Alloh meneguhkan hatinya, agar ia menjadi seorang mu'minah (yang percaya terhadap janji Alloh).
"Ikutilah jejaknya!"(QS. Al-Qoshos:11) suruh Ibu Musa terhadap anak perempuannya (Saudari Musa). Ini dia, saudara perempuan Musa, wanita kedua dalam kisah hidup Musa. Dengan amanah, dia mengikuti jejak musa sampai penyusuran jejaknya itu akhirnya mengantarkan ia ke istana firaun, dan ia dapati saudara laki-lakinya tengah berada di pangkuan istri sang penguasa tiran, Firaun. Bagaimana bisa? Jawabannya hanya satu, sungai telah memainkan perannya dengan baik, sungai tidak khianat dengan suruhan Alloh yang Maha berkuasa. Jika mau, boleh saja sungai menelan bayi mungil itu, namun ternyata Alloh telah menyuruhnya dengan tugas khusus, yaitu mengantar bayi kecil kesisi wanita mu'minah lainnya (Istri Firaun).
Istri Firaun, wanita ketiga dalam hidup Musa, telah memainkan perannya, Alloh menakdirnya 'tuk menjadi penyelamat Musa kecil ketika kilatan pedang hampir saja memutus lehernya. Istri firaun berkata "Jadikanlah ia sebagai buah hatiku dan dirimu! Jangan lah engkau bunuh, mudah-mudahan anak ini kelak bisa bermanfaat bagi kita, kita jadikan saja sebagai anak…".(Al-Qoshos: 9)
"Mereka membuat makar, Alloh pun membuat makar, dan Allohlah yang paling baik makarnya."(Ali-Imron: 54). Firaun ingin agar kekuasaannya langgeng, dengan membunuh setiap bayi laki-laki dari masyarakat bani israil, sehingga populasi lelaki mereka berkurang dan dengan demikian kekuasaan akan tetap berada ditangannya. Firaun punya keinginan, tapi Alloh punya kehendak lain. Apa yang ditakutinya berupa keruntuhan kekuasaan justru tak lama lagi akan terwujud, bayi kecil yang kini berada dibawah asuhan istrinya inilah yang kelak akan menjadi musuhya.
Mulailah istri firaun mencarikan seseorang yang dapat menyusuinya. Tiap kali didatangkan seorang yang hendak menyusuinya, tiap itu pula Musa kecil dengan isyarat keengganannya menolak sang penyusu, sehingga kemudian saudari perempuan Musa yang menyaksikan peristiwa di istana megah firaun itu berkata "Mau kah ku tunjukan kalian kepada seseorang yang dapat menyusuinya?".(Al-Qoshos: 12)
Demikianlah akhirnya Alloh mengembalikan musa ke haribaan ibunya, sehingga hati sang ibu kembali menjadi tenang. Hari-hari berlalu, Musa tumbuh di istana musuhnya sendiri, firaun, namun sang durhaka dan durjana firaun tidak menyadarinya kalau bahaya yang ditakutinya sebenarnya setiap hari selalu mengancam.
Kini Musa telah dewasa, Alloh telah memberikan kepadanya pengetahuan dan hikmah. Alloh pun telah punya rencana lain untuk Musa, hidupnya yang berkelimpahan di istana dan kenyamanan di dalamnya, sesaat dan sesaat lagi akan berubah total.
Pada suatu saat dalam sejarah hidupnya, Musa memasuki sebuah kota yang sedang lengang, tak nampak aktifitas penduduknya, kemudian ia mendapati di kota tersebut, dua orang tengah berselisih, yang satu dari kaumnya (bani israil) yang lainnya adalah anak buah firaun. Maka orang yang dari kaumnya itu meminta bantuan kepada Musa, seketika Musa memukul anak buah firaun hingga ia tergeletak tak berdaya bahkan berhenti detak jantungnya. Musa kaget bukan buatan atas apa yang telah dilakukannya, padahal tak ada maksud sedikit pun untuk membunuh orang tersebut.
"Ya Alloh, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah diriku…"(Al-Qoshos:16) kata Musa bermunajat memohon ampun kepada Alloh atas kesalahan yang telah diperbuatnya.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Musa dihadapkan kembali pada persoalan yang sama, orang dari kaumnya yang kemarin berselisih meminta pertolongan kembali kepada musa, mengesalkan memang, karena selalu saja orang dari bani Israel itu berbuat ulah sebagaimana cucu-cucunya saat ini. Musa berkata kepada orang dari kaumnya itu “Engkau sungguh orang yang nyata-nyata sesat”.(Al-Qoshos: 18)
Maka ketika Musa hendak memukul orang yang menjadi musuh mereka berdua, dia (musuhnya) berkata “Apakah engkau bermaksud membunuhku sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di Negeri ini (Mesir), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”.(Al-Qoshos: 19) Musa menjadi terdiam ketika mendengar kata-katanya, marahnya terhadap pemuda yang hendak ia pukul ditahannya, hingga berlalu lah pemuda tersebut dari hadapannya.
Rupanya berita pembunuhan itu sudah menyebar ke seantero mesir, Nama Musa dibicarakan dari mulut ke mulut, dan bahkan ternyata namanya sudah terdengar gaungnya di istana kerajaan firaun, karena beberapa saat setelah musa hendak memukul orang tadi, datanglah seorang laki-laki bergegas dari ujung kota seraya berkata “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar Negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah dari kota ini, sesunggunya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”.(QS. Al-Qoshos: 20)
Keluarlah akhirnya musa dari kota tersebut (kota Memphis), tanpa bekal, dan tanpa seseorang yang menunjuki jalan, karena tuntutan tiba-tiba yang membuatnya tidak sempat memersiapkan apapun. Langkah kakinya menyisir gurun, menapak jejak, akhirnya mengantarkan Musa ke sebuah negeri diantara negeri syam (Irak, Iran,…) dan Hijaz, yaitu kota Madyan. Kita tidak tahu, seberapa lama musa berjalan, kita pun tidak tahu seberapa banyak bahaya yang mengancamnya selama perjalanan, Al-Quran menjelaskan cerita secara singkat, karena tujuan dari Kisah-kisah Al-Quran itu adalah Mengambil Ibrah atau pelajaran dan nasehat di balik kisah Nabi Musa ini, bukan sekedar hafalan data-data sejarah.
Mulailah satu fase kehidupan baru Bagi Musa, kehidupan yang berbeda 180 derajat dari kehidupan sebelumnya yang penuh dengan kemegahan Istana ayah angkatnya, Firaun. Sekarang, Musa ada di negeri Orang, Negeri Madyan. Matanya memandang jauh kedepan, dan ia dapati sekumpulan orang tengah berkerumun ‘tuk memberi minum ternak mereka. Tiba-tiba saja Musa mengarahkan perhatiannya pada dua orang perempuan yang berdiri jauh dari kumpulan orang tersebut, sembari menahan hewan ternak keduanya agar jangan melaju kearah desakan-desakan kerumunan tersebut.
Kemudian Musa mendekati keduanya sembari berkata “Apakah Maksud Kalian berdua dengan berbuat begitu?...”(QS. Al-Qoshos: 23), kedua perempuan itu menjawab “Kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sebelum orang-orang itu memulangkan ternak mereka (setelah selesai dari memberi minumnya), sedangkan ayah kami adalah seorang yang telah lanjut usianya”. (QS. Al-Qoshos: 23) Seakan-akan jawaban dari keduanya menunjukan kalau keberadaan mereka berdua ditengah desakan adalah perkara yang kurang pantas bagi wanita, oleh karena itu keduanya berdiri jauh dari kerumunan dan desak-desakan orang, sambil kemudian berkata “Ayah kami adalah seorang yang telah lanjut usia”, maksudnya, kalaulah tidak karena ayah kami sudah berumur, maka tentunya kami tidak akan berdiri disini sekarang.
Maka kemudian Musa membantu keduanya dalam memberi minum ternak mereka berdua, setelah selesai, tanpa banyak kata, pulanglah kedua perempuan itu, tak ada obrolan sedikitpun antara musa dan keduanya, pun begitu pula musa tidak meminta upah dari keduanya. Mulailah Musa mencari tempat berteduh, setelah mendapatkannya, ia bernaung di bawah tempat teduh itu, dan tidak sedikitpun meminta-minta walaupun banyak orang yang lalu-lalang di hadapannya. Musa berdoa “Ya Alloh aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku.(QS. Al-Qoshos: 24)
Beberapa saat kemudian, tanpa disangka-sangka datanglah kepada Musa salah satu dari kedua perempuan itu. Sambil berjalan dengan malu-malu dia berkata “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami…”.(QS. Al-Qoshos: 25)
Kebaikan benar-benar datang kepada Musa tanpa harus menunggu berhari-hari, hitungannya hanya menit saja, tibalah pertolongan Alloh kepadanya. Setelah Musa sampai ke rumah kedua perempuan itu, bertemulah Musa dengan Ayah keduanya, Sedangkan kedua perempuan tersebut berada disamping ayahnya. Ia (perempuan tersebut) melihat ada sebuah kesempatan baginya dan bagi saudarinya untuk istirahat dari lelah dan penatnya pekerjaan mengembala kambing, oleh karenanya salah seorang dari kedua perempuan berkata “…Wahai Ayah, jadikanlah ia sebagai pekerja kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja pada kita adalah orang yang kuat dan dapat di percaya”.(QS. Al-Qoshos: 26) Keduanya telah menyaksikan sendiri kejujuran orang asing ini (Musa), kemaskulinan (kelaki-lakiannya), dan kebaikan akhlaknya dengan tidak meminta upah sedikitpun sesaat setelah Musa membantu mereka berdua, oleh karenanya jadilah dalam pandangan mereka berdua Musa sebagai sebaik-baik pemuda.
Apa yang dirasakan kedua perempuan itu, dirasakan pula oleh ayah keduanya, memang benar, orang asing ini (Musa) selain butuh tempat berlindung, pun dapat diperbantukan untuk pekerjaannya menggembala kambing, dan pada saat yang sama pula, orang tua tersebut memiliki dua anak perempuan yang salah satu dari keduanya sudah dirasa cukup untuk menikah, dan juga agar keberadaan Musa di rumahnya tidak mengundang desas desus dan bisik-bisik tetangga, oleh karenanya, menikahkan salah satu dari keduanya dengan ketentuan bekerja beberapa tahun adalah solusi jitu dan pas. Berkatalah orang tua tersebut “Sesunggunya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Alloh engkau mendapatiku termasuk orang yang baik.(QS. Al-Qoshos: 27)
Musa menerima perjanjian itu, ia berkata “…Itu perjanjian antara aku dan engkau, yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku lagi, dan Alloh menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan”.(Al-Qoshos: 28)
Tinggallah Musa di negeri asing bersama seorang istri yang mendampinginya, Inilah takdir Alloh bagi Nabi Musa a.s. dalam satu episode sejarah kehidupannya, Musa dan wanita-wanita berjasa dalam hidupnya, Ibunya, Kakak perempuannya, Istri Firaun, dan Istrinya yang solehah.
*******
Pelajaran yang bisa diambil dari satu episode dalam kehidupan Nabi Musa ini:
1. “Boleh jadi Kita tidak menginginkan sesuatu, padahal sesuatu itu ternyata baik bagi kita”. Ini adalah gambaran dari fase kehidupan Musa, kalaulah karena tidak karena sebab Musa memukul anak buah firaun, tidaklah mungkin ia kan meninggalkan Mesir secara langsung dan tiba-tiba. Sungguh ini adalah takdir Alloh agar sempurna pembinaan Nabi Musa, dan persiapannya dikemudian hari tuk menghadapi kecongkakan firaun. Alloh jauhkan dia dari kemewahan Istana firaun, dan kemudian menempatkannya di tengah lingkungan gurun yang udaranya belum tercemari, akhlak-akhlak penduduknya masih terjaga.
2. Andai Musa terus tinggal di Istana Firaun sampai ia mendapat perintah menghadapinya, maka itu akan menjadi hal yang cukup berat baginya, karena musa hidup dari suapan firaun, tinggal di istananya. Maka dengan mudah firaun akan mencelanya, dan menuduhnya tak tahu diuntung. Kehidupan Mandiri adalah cara tuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi, walau akhirnya firaun mengejeknya juga dengan cara itu, padahal musa sudah mandiri dan tidak sepenuhnya hidup dari suapan firaun, apalagi jika tidak demikian, tentunya ini akan menjadi aib tersendiri bagi Musa.
3. Ada kemiripan antara kisah Nabi Musa dan kisah Nabi Yusuf, pertama, Musa di lempar oleh ibunya ke sungai dengan harapan agar selamat dari cengkraman tangan jahat Firaun, adapun Yusuf, saudara-saudaranya lah yang melemparnya ke sumur karena kedengkian mereka, kedua, keduanya sama-sama hidup di lingkungan istana semasa kecil, namun dalam kisah Yusuf yang paling berperan terhadap pendidikannya dan pengembangan dirinya adalah raja dari istana yang ia tinggali sebagaimana dijelaskan di surat Yusuf ayat 21, adapun dalam kisah Musa yang berperan adalah Istri dari raja Firaun sebagaimana tersebut dalam surat Al-Qosos ayat 9.
Ketiga, keduanya tinggal dalam lingkungan keberhalaan. Pada zaman Nabi Yusuf keberhalaan dan kerusakan moral sudah mencapai puncaknya, pun begitu pula pada zaman Nabi Musa, namun walaupun demikian, Alloh telah menjaga kehidupan keduanya dari keterlibatan dengan penyembahan berhala dan kerusakan moral yang merajalela.
Keempat, Setiap fase dari kehidupan dua Nabi ini selalu mengantarkan keduanya pada kondisi yang berbeda bahkan perubahan drastis amat sangat terlihat dari sejarah hidup keduanya. Yusuf hidup dengan nyaman di istana raja mesir, kedekatan Yusuf dengannya layaknya seorang anak dengan ayahnya, semua kenikmatan hidup ia rasakan di dalamnya, pun begitu pula dengan Nabi Musa, dia termasuk anak angkat firaun, dibesarkan di istananya dan sudah barang tentu sempat mencicipi aneka kenikmatan hidup di dalamnya. Namun ternyata, keduanya mesti kehilangan semua kenikmatan hidup itu.
Kehidupan mereka berdua tiba-tiba saja berpindah menuju kesengsaraan, kerasnya hidup, ujian dan cobaan. Yusuf, dari kehidupannya yang penuh kenikmatan, tiba-tiba saja harus mendekam di balik jeruji penjara setelah lontaran tuduhan tak pantas ditujukan padanya oleh seorang perempuan, istri pembesar mesir, Zulaikha. Adapun Musa, kehilangan semuanya sesaat setelah tindakannya yang berakibat pada terbunuhnya anak buah firaun.
Kelima, wanita memiliki peran dalam kehidupan keduanya, hanya saja dalam kisah Nabi Yusuf, peran tersebut berkebalikan dengan peran wanita dalam kehidupan Nabi Musa. Atas takdir Alloh perempuan dalam kehidupan Nabi Yusuf menjadi sumber ujian dan cobaan baginya, adapun dalam kehidupan Nabi Musa, bermula dari Ibu, Saudara perempuan, Istri Firaun, sampai Istrinya, semuanya adalah Nikmat Alloh yang diberikan kepadanya.
4. Kisah Nabi dengan dua orang perempuan yang ia temui di negeri Madyan ini memberikan gambaran pada kita tentang Nilai-nilai Islam dan akhlak-akhlak yang semestinya dipegang teguh oleh muslimah dimanapun dan kapanpun ia berada, beberapa diantaranya adalah:
• Semestinya bagi seorang wanita, ketika ia hendak meninggalkan rumahnya dan menuju tempat lain, baik terjun ke medan kerja, atau sekedar berpergian, berdua lebih baik dari pada sendiri. Kita lihat dalam Kisah tersebut, dua orang perempuan kakak beradik, keluar menuju medan kerja, walaupun boleh jadi orang tuanya yang sudah lanjut usia sangat membutuhkan salah satu dari keduanya untuk hanya sekedar mengambilkan minum, menyuapi makan atau yang lainnya, namun kita lihat bagaimana keduanya keluar bersama-sama agar dapat saling membantu satu sama lain, sehingga tidak membutuhkan bantuan dari orang asing, lebih khusus lagi bahwa karakter dasar pembentukan wanita yang tidak sekuat laki-laki menjadi sebab akan butuhnya seseorang yang menemani dan membantu dalam beberapa pekerjaannya.
• Masing-masing dari kedua perempuan dalam Kisah Musa ini layaknya kamera pengintai bagi yang lainnya, ketika yang satu bekerja, maka yang lain mengawasinya, agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari, karena keberadaan seorang wanita ditengah-tengah kerumunan orang, apalagi jika kerumunan orang tersebut didominasi oleh kaum adam, adalah hal yang riskan baginya kalau-kalau terjadi hal-hal tercela yang tidak pantas dari orang asing yang ditemuinya.
• Kita lihat bagaimana keduanya tidak mau berdesak-desakan, dan ini dijelaskan oleh kata-kata mereka berdua “Kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sebelum orang-orang itu memulangkan ternak mereka (setelah selesai dari memberi minumnya)….”. Seperti telah dijelaskan, bahwa desak-desakan bagi seorang wanita adalah hal yang membuka celah terjadinya sesuatu yang tidak mengenakkan hati, kecuali jika berdesakan ditengah kerumunan sesama wanita, namun lebih utama dijauhi. Hal yang membuat saya miris adalah ketika kebanyakan mahasiswi kita di Kairo, ikut berdesak-desakan di Bus, karena memang disini tranportasi agak sulit, bukan karena kekurangan unit kendaraan/angkutan, namun karena padatnya populasi penduduk. Wanita berdiri di dekat pintu masuk bus sambil kakinya yang sebelah mengambang di udara akan anda dapati disini, dan yang berbuat seperti itu rata-rata mahasiswi Indonesia, oleh karena itu tingkat kriminal pemuda mesir terhadap mahasiswi Indonesia cukup masuk catatan, pun begitu pula terhadap ras Melayu yang lainnya seperti Malaisya, Thailand, dan Singapore.
• Kedua perempuan dalam kisah Nabi Musa ini tidak keluar dengan bersolek dan berhias yang berlebihan, tidak pula berjalan tanpa adab dan rasa malu, melainkan seperti yang digambarkan dalam ayat “Berjalan dengan malu-malu”, seakan-akan rasa malu adalah jalan yang dilewatinya tuk sedikit mendekat menuju Musa.
5. Dari ayat yang berisi perjanjian Musa dan Orang tua, ayah kedua perempuan itu, kita dapati kecerdasan dan kebijakan orang tua tersebut, yakni keputusannya tuk menikahkan salah seorang anak perempuannya dengan Musa, karena memang dia pun membutuhkan seseorang tuk menggantikannya mengurus gembalaan, dan agar kedua anak perempuannya pun dapat istirahat dari lelahnya menggembala. Kalaulah Orang tua tersebut tidak mengambil keputusan menikahkan salah satu putrinya dengan Musa, maka beberapa kesulitan yang mungkin menimpanya adalah sebagai berikut:
• Orang asing ada di rumahnya, sedangkan dia memiliki dua putri, tentunya hal ini akan memancing desas desus yang mencoreng aib keluarga.
• Karena Musa adalah orang asing, boleh jadi ia akan meminta upahnya, karena itu memang haknya, dan ini pun akan membuatnya sulit ‘tuk memenuhi. Tapi karena Musa sudah menjadi menantunya, rasanya kurang pantas jika masih meminta upah terhadap mertuanya.
• Musa akan terus menjadi orang asing dirumahnya karena tidak terikat dengan ikatan apapun, namun ketika sang orang tua menikahkan dengan salah satu putrinya, maka keberadaannya di rumah itu adalah keberadaan yang sah lagi halal, yaitu sebagai seorang suami dari salah satu putri orang tua tersebut, kalau tidak demikian, apa statusnya ketika berkumpul dengan dua orang perempuan yang asing baginya???
6. Tidak seorang Nabi pun melainkan ia pernah menggembala Kambing, Nabi Muhammad, Musa, Isa, dan lain sebagainya. Terdapat beberapa akhlak yang didapatkan dari hasil menggembala kambing ini, diantaranya:
• Sabar: Pekerjaan penggembala adalah pekerjaan dari matahari terbit hingga terbenam, karena kelambanan hewan ternak dalam mengunyah makanannya, maka sabar adalah sebuah tuntutan akhlak yang mau tidak mau mesti dipenuhi oleh pengembala.
• Tawadhu (Rendah Hati): Ciri khas penggembala hewan ternak (kambing, domba, dll) adalah pelayanannya terhadap hewan tersebut, mulai dari mengurusi kelahirannya, penjagaannya yang boleh jadi menuntutnya ‘tuk tidur di dekat hewan-hewan tersebut, dan bahkan sesekali terkena kencingnya. Ketika pekerjaan ini terus berlanjut dan berulang-ulang, hal itu akan semakin menjauhkannya dari besar kepala atau sombong.
• Keberanian (Syaja’ah): Ciri khas lainnya dari pekerjaan menggembala hewan ternak ini adalah bahaya yang kerap kali mengancam dari binatang buas sebangsa srigala yang setiap waktu dapat memangsa hewan ternaknya. Maka seorang penggembala harus memiliki keberanian lebih ‘tuk menghadang hewan buas ini.
• Kasih sayang dan Belas kasih: Tuntutan pekerjaan penggembala kambing adalah, mengobati hewan ternaknya ketika sakit, atau terluka karena gigitan hewan buas. Semua ini membutuhkan kasih sayang dan belas kasih terhadap hewan, memerlakukannya sebagaimana perlakuannya terhadap manusia. Siapa saja yang mengasihi hewan dan berbuat lembut padanya, sudah barang tentu akan memerlakukan manusia dengan sikap yang lebih lembut dan penuh kasih sayang.
• Cinta pekerjaan hasil keringat sendiri: Diriwayatkan Bukhori dari Miqdad R.A. dari Rasulullah saw, Beliau berkata, “Tidak ada makanan yang paling baik bagi seseorang selain makanan yang ia dapatkan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud A.S. makan dari hasil kerja tangannya sendiri” (HR. Muslim). Tidak diragukan lagi bahwa dengan bersandar pada usaha halal ‘kan membuat seseorang meraih kebebasan sempurna dan berkuasa untuk terang-terangan dalam melantangkan kebenaran. Wallohu ‘alam bis shawab
Cairo, 29 Juni 2010
Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)





